Warning: Stunting pada Anak

stunting

Mengapa stunting dapat berpengaruh pada kemajuan suatu negara?

Anak dan Bonus Demografi

Anak -anak merupakan masa depan dan aset berharga suatu negara. Pertumbuhan dan perkembangan anak-anak yang baik dan sehat sangat diperlukan untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang terus maju. 

Diperkirakan, pada tahun 2045 ada sebanyak 70% jumlah total penduduk Indonesia yang berusia produktif (usia 15 – 64 tahun). Apabila pertumbuhan dan perkembangan anak-anak Indonesia mulai diperhatikan dari sekarang, tentunya anak-anak ini akan tumbuh menjadi bonus demografi yang cerdas, sehat, dan produktif pada tahun 2045. 

Gangguan Gizi

Masalah yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak-anak salah satunya adalah masalah gizi. Masalah gizi dapat berupa kekurangan gizi (malnutrisi) atau kelebihan gizi (overnutrisi). Keduanya dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius bila tidak dideteksi dan ditangani sejak dini.

Malnutrisi merupakan keadaan kekurangan nutrisi yang dapat berdampak buruk bagi anak. Masalah ini merupakan masalah yang masih sering muncul pada negara berkembang seperti Indonesia. Apabila tidak ditangani, malnutrisi akan menciptakan generasi penerus yang tidak optimal baik pertumbuhan maupun perkembangannya. Hal ini tentunya dapat menghambat perkembangan Indonesia untuk menjadi negara yang maju.

Stunting

Salah satu akibat dari kekurangan gizi yang berlangsung lama (kronik) adalah stunting. Di seluruh dunia, 155 juta anak menderita stunting derajat sedang hingga berat. Di Indonesia sendiri, prevalensi atau angka kekerapan stunting sudah menurun. Namun, angka stunting Indonesia masih diatas batas toleransi yang telah ditetapkan WHO. Toleransi WHO untuk stunting adalah 20%, sementara Indonesia masih memiliki angka stunting 27,67% pada tahun 2019. 

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi dibawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Stunting  bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya (bertubuh pendek/kerdil) saja, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang tentunya sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif.

Stunting dibedakan dengan wasting (kurus). Anak penderita stunting memiliki tubuh yang terlihat proporsional (tidak kurus). Namun, apabila diukur ternyata tinggi badannya dibawah standar tinggi badan anak-anak seusianya. Karena terlihat proporsional, maka stunting dapat tidak terdeteksi apabila tinggi badan anak tidak dipantau secara berkala.

Derajat Stunting

Berdasarkan sumber, stunting dibedakan menjadi 2 jenis yaitu stunting bila hasil pengukuran tinggi badan anak dibawah minus 2 pada kurva, dan stunting berat bila dibawah minus 3 pada kurva WHO pada buku KIA atau KMS.

Akibat dari Stunting

Stunting dapat mengganggu pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak. Berikut adalah dampak stunting berdasarkan waktunya.

Dampak jangka pendek 

Dampak jangka pendek antara lain gangguan pertumbuhan tubuh, gangguan metabolisme, gangguan perkembangan otak, hingga mempengaruhi kecerdasan anak. 

Dampak Jangka Panjang

Penelitian menunjukkan bahwa anak yang menderita stunting lebih berisiko untuk menderita penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, penyakit jantung coroner, hipertensi dan obesitas saat dewasa. Selain itu, sebuah studi menunjukkan adanya hubungan antara stunting dengan pendapatan yang lebih rendah saat dewasa.

Karena akibat-akibat tersebut, stunting dapat mengganggu kemajuan suatu negara. Apabila angka stunting suatu negara tinggi, maka dapat diperkirakan saat anak dengan stunting mencapai usia produktif, mereka tidak dapat berkontribusi secara optimal pada negara.

Diagnosa Stunting

Karena stunting merupakan perawakan pendek, maka tinggi badan anak sebaiknya dipantau secara berkala dan dimasukkan kedalam grafik WHO yang terdapat pada buku Posyandu setempat atau pada aplikasi Primaku yang dibuat IDAI. Anak dengan tinggi badan kurang dari persentil -3 pada kurva termasuk kedalam stunted (perawakan pendek). 

Penyebab Stunting 

Stunting merupakan kekurangan gizi yang berlangsung lama (kronik) dan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Penyebab stunting bisa dimulai sejak dari janin dalam kandungan hingga usia 2 tahun (1000 hari pertama kehidupan). Berdasarkan IDAI, penyebab stunting dikenal dengan singkatan KOKPENDK.

stunting
Tabel Penyebab Stunting Pada Anak (sumber: IDAI)

Deteksi Penyebab

Agar dapat mengatasi stunting sehingga tidak berkelanjutan atau menjadi lebih berat, maka perlu dilakukan pemeriksaan untuk mendeteksi penyebab stunting. Sehingga, penanganan dapat lebih tepat dan efektif.

Pemeriksaan Awal

Karena malnutrisi dan penyakit kronik masih merupakan penyebab utama stunting di Indonesia, maka pemeriksaan darah tepi lengkap, urin dan feses rutin, laju endap darah, elektrolit serum dan urin, serta usia tulang merupakan langkah pertama yang strategis untuk mencari penyebab stunting. 

stunting
Konjungtiva mata yang pucat merupakan salah satu tanda anemia (sumber: Google)

Pemeriksaan Lanjutan

Apabila tidak ditemukan kelainan pada pemeriksan awal, maka akan dilakukan pemeriksaan khusus seperti kadar hormon pertumbuhan, IGF-I, analisis kromosom, analisis DNA dan lainnya.

Terapi

Stunting merupakan gangguan yang bersifat irreversible alias tidak dapat dikembalikan seperti semula. Karena itu, pencegahan stunting sangat penting. Apabila stunting sudah terlanjur terjadi, maka sebaiknya dilakukan penanganan sesuai penyebabnya.

Penanganan Umum

Cara paling efektif untuk meningkatkan skor perkembangan anak stunting pada usia 24 bulan pertama adalah kombinasi suplementasi nutrisi dan stimulasi. Karena berdasarkan penelitian, ketika anak stunting diberi suplementasi saja, maka skor perkembangannya (DQ) nya naik, namun saat diberikan stimulasi saja, maka DQ anak lebih tinggi lagi perkembangannya, akan tetapi, saat diberikan kombinasi nutrisi dan stimulasi, perkembangannya jauh lebih tinggi. Meskipun perkembangan tidak setinggi anak normal. Karena stunting permanen atau irreversible hingga umur 18 tahun.

Perbaikan Nutrisi

Apabila stunting terjadi akibat gangguan nutrisi seperti kekurangan zat besi, kekurangan protein atau karbohidrat, dan kekurangan nutrisi lainnya, maka ditangani dengan memberikan kecukupan gizi. Dengan begitu, diharapkan stunting yang telah terjadi tidak menjadi lebih berat.

Penanganan Penyakit 

Apabila stunting terjadi akibat adanya penyakit seperti diare yang berlangsung kronis, atau penyakit infeksi lain seperti cacingan, maka sebaiknya diobati. Begitu pula stunting yang terjadi akibat penyakit lainnya seperti penyakit jantung bawaan, penyakit kanker pada anak dan lainnya. Sebaiknya asupan nutrisi pada anak diperhatikan dan dilakukan konsultasi pada dokter gizi untuk memastikan asupan nutrisi yang memadai.

Perbaikan Hormon

Apabila penyebab stunting adalah akibat gangguan hormon, maka dapat diberikan terapi hormon untuk memperbaiki pertumbuhan anak.

Kesimpulan

Pencegahan, deteksi, dan penanganan stunting sangat penting bagi tumbuh kembang seorang anak. Karena stunting bersifat menetap, maka pencegahan menjadi sangat penting untuk dilakukan dalam program-program pelayanan kesehatan masyarakat. 

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *