Baru! Vaksin CoVid-19

Vaksin CoVid-19

Sudah hampir 1 tahun pandemi COVID-19 menghantui kehidupan sosial kita, namun nampaknya hingga artikel ini ditulis belum surut juga penyebarannya. Vaksin CoVid-19 diperkirakan menjadi jalan keluar di tengah kelelahan masyarakat untuk social distancing.

Hidup bersosialisasi merupakan naluri setiap manusia, namun ditahun 2020 ini, kita diminta untuk menekan dalam-dalam naluri tersebut agar penyebaran Virus COVID-19 dapat terkendali. Pilihan lockdown total pun tidak dapat dilakukan karena dapat membahayakan ekonomi negara, sehingga harapan diletakkan kepada perusahaan-perusahaan multinasional dengan teknologi dan finansial yang memadai untuk membuat sebuah vaksin yang ampuh melenyapkan Covid-19

Tidak ketinggalan, Indonesia pun berusaha untuk berburu Vaksin CoVid-19. BioFarma telah menjalin kerjasama dengan Sinovac, produsen Vaksin asal Cina untuk melakukan beberapa ujicoba Vaksin Sinovac terhadap 1620 relawan. Namun angka tersebut sangat kecil bila dibandingkan dengan negara lain. Sebagai contoh, Brazil melakukan ujicoba vaksin pada 13.060 relawan, sedangkan turki mengujicoba vaksin COVID-19 kepada 15.000 relawan.

Prioritas Penerima Vaksin

Prioritas penerima vaksin di Indonesia menjadi pertanyaan. Hal ini dikarenakan terdapat 3 kriteria untuk menjadi penerima vaksin COVID-19 di Indonesia:

  • Berusia 18-59 tahun
  • Tidak memiliki penyakit komorbid (hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung)
  • tidak hamil.

Tidak semua warga yang memenuhi syarat tersebut langsung serta merta menerima vaksin covid-19 tersebut. Kelompok masyarakat yang akan mendapat vaksin terlebih dahulu adalah:

  • Tenaga Medis
  • Pekerja Area Publik (Aparatur Negara)
  • Tenaga Pendidik
  • Tokoh Masyarakat
  • Peserta JKN

Prioritas penerima vaksin-COVID-19 ini berbeda dengan yang ada di beberapa negara lain. Bahkan di Inggris dan Amerika, direncanakan yang akan terlebih dahulu menerima vaksin justru warga berusia di atas 50 tahun, waga yang memiliki komorbid. Setelah itu, baru masuk fase 2 yaitu pekerja sektor publik.

Perbedaan Jenis Vaksin COVID-19

Perbedaan prioritas penerima vaksin tersebut berbeda dikarenakan jenis vaksin yang akan didistribusikan oleh pemerintah.

Vaksin Sinovac

Vaksin ini menggunakan metode inaktivasi virus. Walaupun kecil kemungkinan vaksin teraktivasi kembali di tubuh penerima vaksin, namun resiko tersebut tidak mungkin diabaikan. Bila hal ini terjadi kepada kelompok yang rentan, tentunya akan berakibat fatal. Metode ini dianggap lebih tradisional.

Vaksin yang dikembangkan Pfizer dan Moderna

Vaksin Pfizer dan Moderna menggunakan metode yang lebih canggih, yaitu dengan teknik RNA. Dengan teknik ini, kemungkinan virus teraktifasi kembali jauh lebih kecil lagi bila dibandingkan dengan metode sebelumnya.

Kenapa Indonesia menggunakan Vaksin Sinovac, dengan teknik yang lebih Tradisional?

Program vaksinasi diprediksi akan berlangsung dalam waktu yang panjang, sehingga rantai produksi dan distribusi harus dipertimbangkan. Teknologi yang sanggup dilakukan secara massal di Indonesia memang masih yang tradisional, hal ini perlu dipikirkan agar di masa depan Indonesia dapat memproduksi vaksin sendiri tanpa ketergantungan dari negara lain.

Kalau dilihat dari sisi penyimpanan, teknik RNA membutuhkan medium penyimpanan yang lebih terjaga dibandingkan Vaksin Sinovac. Misalnya, Vaksin buatan Pfizer membutuhkan ruang penyimpanan di suhu -800C, sedangkan vaksin buatan Moderna membutuhkan suhu -20C hingga -80C. Hal ini sangat mustahil dilakukan di Indonesia mengingat infrastruktur listrik yang masih sering padam dan bahkan di beberapa daerah belum ada aliran tenaga listrik.

Pemerintah menyatakan bahwa total sasaran vaksinasi sejumlah 107 juta orang. Dengan asumsi bahwa setiap orang membutuhkan dua dosis vaksin ditambah rerata ketidakterpakaian (wastage rate) 15%, maka kebutuhan totalnya sekitar 246,5 juta dosis. 

Diperkirakan 16-17 juta per bulan, namun itupun bergantung pada suplai bahan dari produsen Sinovac.  Menristek Bambang Brodjonegoro mengklaim angka yang lebih fantastis bahwa BioFarma—bersama tiga perusahaan swasta lain—akan mampu memproduksi vaksin 1 miliar dosis per tahun. Asumsi yang nampaknya berlebihan, mengingat BioFarma dengan rekam jejak produksi vaksin yang panjang menyatakan baru sanggup menyediakan sekitar 204 juta vaksin per tahun dengan skenario optimal. Apakah sisanya akan ditambal oleh tiga perusahaan swasta yang rekam jejak produksi vaksinnya masih berada di belakang BioFarma? Pertanyaan yang menarik untuk diajukan sebagai bagian pondasi kepercayaan publik terhadap vaksin.

Komunikasi Juru Bicara Pemerintah

Tugas utama pemerintah adalah mengkomuniasikan semua secara jernih dan transparan. Komunikasi adalah kunci implementasi kebijakan yang seringkali terabaikan

Agar program vaksinasi COVID-19 ini berhasil, pemerintah harus mampu menyampaikan informasi yang gamblang kepada masyarakat. Karena, kuncu sukses vaksinasi justru berasal dari kepercayaan publik. Kepercayaan tersebut harus dibangun dengan kesabaran dalam menempatkan kepentingan warga negara di atas kepentingan yang lain.

Sebanyak 1,2 juta dosis vaksin corona Sinovac Biotech sudah tiba di Indonesia, Minggu (6/12/20202). Vaksin ini kini sudah disimpan di kantor pusat PT Bio Farma di Bandung.

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *