Halo Test, Pemeriksaan Sperm Quality dengan menilai 5 Jenis Halo

halo test

Apakah Halo Test Itu? Mengapa tetap perlu diperiksa ketika analisa sprema menunjukkan hasil yang baik?

Metoda analisa sperma konvensional yang rutin dilakukan saat ini merupakan pemeriksaan yang cukup sederhana dan tidak mahal, namun memiliki hasil yang bervariasi, kurang terstandar, dan tidak dapat dijadikan patokan yang kuat untuk menilai fertilitas laki – laki. Karena itu, diperlukan pemeriksaan tambahan apabila tidak terdapat perbaikan setelah dilakukan pengobatan pada pria dengan hasil analisa sperma yang kurang baik.

Baca juga mengenai infertilitas pada pria disini.

Analisa Sperma

Analisa sperma konvensional atau biasa, merupakan prosedur yang bertujuan untuk memeriksa kondisi kesehatan dan ketahanan hidup sperma. Tes yang dikenal dengan nama sperm count ini juga akan memeriksa jumlah sperma, serta kualitas sperma di dalam air mani.

Pemeriksaan analisa sperma umumnya meliputi 3 faktor, yaitu:

  • Jumlah sel sperma
  • Bentuk dan morfologi sel sperma
  • Pergerakan atau motilitas sel sperma

Karena tidak dapat dijadikan patokan yang kuat untuk menilai fertilitas laki – laki, maka apabila hasil analisa sperma tidak menunjukkan gangguan, namun kehamilan sulit terjadi, sebaiknya dilakukan pemeriksaan sperma lanjutan.

Baca juga selengkapnya mengenai pemeriksaan analisa sperma disini.

Pemeriksaan Fragmentasi DNA

Pemeriksaan lanjutan setelah analisa sperma yaitu pemeriksaan fragmentasi DNA spermatozoa. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memeriksa kualitas sperma yaitu DNA spermatozoa. DNA merupakan bagian penting dari sperma dan ovum, dan akan menentukan baik buruknya perkembangan embrio setelah pembuahan. DNA yang baik dari sperma dan ovum akan lebih mungkin untuk berkembang menjadi janin yang kuat dan sehat. 

Fragmentasi (kerusakan) DNA pada sperma dapat disebabkan oleh gangguan spermatogenesis, pematangan sperma, stres oksidatif (contoh: varikokel), maupun infeksi, dan dapat menyebabkan infertilitas laki – laki, gangguan perkembangan embrio atau janin, serta abortus berulang. Selain menghasilkan diagnosa yang lebih baik, pemeriksaan fragmentasi DNA spermatozoa juga menggambarkan prognosis infertilitas termasuk hasil dari program hamil buatan seperti inseminasi buatan maupun bayi tabung.

Baca juga mengenai varikokel disini.

Tujuan Pemeriksaan Fragmentasi DNA Sperma

Pemeriksaan fragmentasi DNA sperma terutama ditujukan untuk membantu mengetahui dan mengevaluasi kualitas sperma pada pasien – pasien dengan kondisi sebagai berikut:

  • Pasangan dengan riwayat abortus berulang
  • Pasangan dengan riwayat infertilitas tanpa diketahui penyebabnya
  • Pria dengan usia lebih dari 40 tahun
  • Pria dengan riwayat kanker dan penyakit tertentu seperti infeksi saluran kemih
  • Pria dalam pengobatan tertentu
  • Pria yang terpapar zat tertentu
  • Pria dengan kebiasaan merokok, stres tinggi, dan lain – lain

Pemeriksaan Halo Test

Salah satu pemeriksaan untuk memeriksa fragmentasi DNA sperma adalah dengan Halo Test. Pada pemeriksaan ini, terlihat halo (lingkaran) di sekeliling kepala spermatozoa. 

Sebelum dilakukan pemeriksaan, dokter akan menganjurkan pasien untuk tidak melakukan ejakulasi sekitar 2-7 hari sebelum pemeriksaan. Dokter mungkin juga akan melakukan pemeriksaan tambahan seperti USG testis, pemeriksaan hormon dan lainnya untuk mencari penyebab gangguan pada sperma.

Pada pemeriksaan Halo Test, sperma akan diberikan cairan khusus yang membantu larutnya DNA di dalam inti sperma keluar. Kemudian, pewarna akan ditambahkan sehingga mewarnai DNA yang terlarut tersebut. Hasilnya, DNA yang terlarut keluar dari kepala sperma akan membentuk halo (lingkaran) di sekeliling kepala sperma. Halo inilah yang akan diukur pada pemeriksaan Halo Test. 

Ukuran Halo

Ukuran halo yang terbentuk pada pemeriksaan ini terbagi menjadi lima, yaitu: 

  • Halo Besar. Memiliki ukuran yang lebih kecil atau sama dengan ukuran diamater terkecil dari inti spermatozoa
  • Halo Sedang. Memiliki ukuran antara spertiga hingga setengah diamter terkecil dari inti sperma
  • Halo Kecil. Memiliki ukuran kurang atau sama dengan sepertiga diamter terkecil dari inti sperma
  • Tanpa Halo
  • Tanpa Halo dan Terdegradasi
halo test
Gambaran Pemeriksaan Halo Test (Sumber: Google)

Hasil Pemeriksaan

Hasil dari pemeriksaan fragmentasi DNA sperma disebut Indeks Fragmentasi DNA (IFD). IFD diperoleh dari persentase total sperma dengan DNA yang rusak dibanding jumlah sperma yang diamati. Jumlah minimal sperma yang diamati adalah 500 sel.

IFD sperma diklasifikasikan menjadi 3 yaitu:

  • Baik (IFD 0-15%)
  • Sedang (IFD > 15 atau kurang dari 30%)
  • Buruk (IFD > 30%)

Dari berbagai penelitian, bisa disimpulkan bahwa bila seorang laki – laki memiliki spermatozoa dengan jumlah yang cukup, pergerakan cepat, dan morfologi yang normal, tetapi IFD tinggi (buruk), maka perkembangan embrio, implantasi, atau bahkan proses pembuahan dapat terganggu atau tidak terwujud. Hal ini terjadi akibat sperma dengan DNA yang rusak (terfragmentasi), akan kurang atau gagal dalam mengusahakan perbaikan DNA, mulai dari spermiogenesis, fertilisasi, implantasi, hingga ke perkembangan embrio.

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *